Selasa, 27 September 2016

Dia tak lagi bersuara

Hening, begitulah malam ini. Seperti malam-malam sebelumnya. Berteman secangkir kopi dan sepuntung rokok. Amat lihai dia memainkan asap yang menyembul dari mulut hitamnya. Seakan tak ada yang terjadi. Namun bisik lembut sang hujanlah yang tau. Mengapa dia tak menyebut satu kata pun. Seolah semua orang paham akan apa yang diinginkannya walau tanpa mengatakannya. Malam yang sepi semakin sepi. Sempurna hujan membungkus kesunyian ini. Hanya deras rintik hujan. Dan malam ini, saat semua orang tak menghiraukannya, disitulah dia berubah. dia yang benar-benar sudah berubah, tak mengetahui bahwa bocah kecil di balik pintu tengah melihatnya.  Ya, hanya bocah itulah yang tau. Dan semenjak saat itu, sang bocah juga terdiam. untuk selamanya.

Sajak Kematian

Senja kelabu menghampiriku
Memendam semua hasrat sukmawi
Rasa ingin membawamu
Bersua dalam penantian nan sejati
         Andai terdengar jeritan lara
         Kuyakin kau tak kuasa bertahan
         Sesak, sepi, sendu bertemankan
         Pelita tiada datang menghampiri
inilah kawan
cerita itu tak kan pernah usai
hingga alam bosan  melihatnya
berkalungkan kenistaan
         Itulah kau, kematian
         Tak mungkin bisa aku lari
         Seberapa pun kuat aku melangkah menjauh
        Kau tetap mampu menyeretku
        Menembus alam yang tiada berujung itu

Lalai

aku lah orang yang lalai. aku begitu bodohnya terlalu nmenganggap mudah segala hal. sebenarnya aku sadar bahwa aku ini  orang yang lemah. tak tau mengapa aku meng-iya-kan saja apa yang menjadi tugasku, walau aku tak mampu menyelesaikannya. aku benar-benar merasa orang terbodoh. aku menyesali hal yang sudah lalu. waktu yang terbuang sia-sia.
 ya allah...mengapa terlalu begini nasibku. mungkin aku bisa dimaafkan orang lain. tapi aku tidak bisa menjadi orang yang seperti ini terus. bagaimana aku bisa berubah ya rabb?? aku sungguh kesal dengan diriku sendiri. ini menyangkut hidup orang banyak dan aku yang membawa tanggung jawab itu. aku benar-benar tak ingin menjadi seperti ini terus. apalah gunanya aku kuliah, sekolah tinggi, jika kau tidak mampu mencapai hal-hal yang seharusnya bisa aku capai. ampunilah aku allah. aku selalu mengutuk diri sendiri. aku tau engkau menciptakanku bukan tanpa alasan. aku tau semua ini pasti ada hikmahnya. namun aku tak tau seperti ap hikmah itu. hanya satu yang ada di pikiranku. aku yakin. aku percaya dengan kuasamu yang maha agung itu.
astaghfirullah... ampuni hambamu ini ya allah..
laa haula wala quwwata illa billahil 'aliyyil 'adziim...